Tuesday, 26 August 2014

MPASI pada Bayi

0 comments
Sejak 2001 hingga Sekarang, Rekomendasi Pemberian #ASI eksklusif 6 bulan / waktu mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI) saat bayi berusia 6 bulan / 180 hari = Belum BERUBAH

Sebelumnya saya mengucapkan Mohon maaf lahir batin, terutama bila ada kata2 / tulisan saya yang kurang berkenan. Terimakasih atas ucapan yang dikirimkan via Inbox dll, maaf bila tidak dibalas satu persatu. Taqabbal Allahu minna wa minkum.

Dalam sebulan terakhir ini saya membaca & ditanya beberapa Ibu menyusui yang menyatakan kebingungannya karena tenaga kesehatan yang menangani bayi-bayi mereka baik itu dokter anak maupun bidan menyarankan pemberian MPASI sejak usia 4 bulan, dan kata-nya rekomendasi IDAI sudah berubah (saya tidak ada niat untuk mendiskreditkan para tenaga kesehatan). Kemudian ada yang minta saya sumber2 asli yang menyatakan rekomendasi MPASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan.

Baiklah , silahkan simak kutipan2 ini, semua sumber kecuali dari web IDAI tidak saya terjemahkan bahasa Inggrisnya karena saya post benar2 original filenya. Gak complaint ya.. pakai fasilitas google translate aja kalau tidak bisa bahasa Inggris.

1. Rekomendasi WHO (World Health Organization)

Duration of Exclusive Breastfeeding & Age of Introduction of Complementary Foods

A. Guideline: Practice exclusive breastfeeding from birth to 6 months of age, and introduce complementary foods at 6 months of age (180 days) while continuing to breastfeed.

B. Scientific rationale:

In May, 2001 the 54th World Health Assembly urged Member States to
promote exclusive breastfeeding for six months as a global public health recommendation (World Health Assembly, 2001). This recommendation followed a report by a WHO Expert Consultation on the Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding (WHO, 2001), which considered the results of a systematic review of the evidence (Kramer and Kakuma, 2002) and concluded that exclusive breastfeeding for six months confers several benefits on the infant and the
mother. Chief among these is the protective effect against infant gastrointestinal infections, which is observed not only in developing country settings but also in industrialized countries (Kramer et al., 2001).

Sumber : Guiding Principles For Complementary Feeding of The Breastfed Child - WHO 2010

2. Rekomendasi UNICEF (United Nations of Children's Fund)

Breast milk provides all the food and water that your baby needs during the first 6 months.

• Do not give anything else, not even water, during your baby’s first 6 months.
• Even during very hot weather, breast milk will satisfy your baby’s thirst.
• Giving your baby anything else will cause him/her to suckle less and will reduce the amount of
breast milk that you produce.
• Water, other liquids and foods can make the baby sick.

Sumber : Key Message Booklet UNICEF September 2012

3. Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics)

How long should I breastfeed my baby?

The AAP recommends that babies be exclusively breastfed for about the first 6 months of life. This means your baby needs no additional foods (except Vitamin D) or fluids unless medically indicated. Babies should continue to breastfeed for a year and for as long as is mutually desired by the mother and baby. Breastfeeding should be supported by your physician for as long as it is the right choice for you and your baby.

4. Rekomendasi Australian Government National Health & Medical Research Council

In Australia, it is recommended that infants be exclusively breastfed until
around 6 months of age when solid foods are introduced. It is further
recommended that breastfeeding be continued until 12 months of age
and beyond, for as long as the mother and child desire.

5. Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA

REKOMENDASI No.: 002/Rek/PP IDAI/XI/2010

tentang Air Susu Ibu dan Menyusui

ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain, baik berupa air putih, jus, ataupun susu selain ASI. Pemberian vitamin, mineral, dan obat-obatan diperbolehkan selama pemberian ASI eksklusif

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama cukup untuk mencapai tumbuh kembang optimal.

Bonus :

6. Infant and young child feeding Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals - WHO

Recommended infant and young child feeding practices WHO and UNICEF’s global recommendations for optimal infant feeding as set out in the Global Strategy
are:

Exclusive breastfeeding for 6 months (180 days)

Silahkan baca tulisan2 saya yang lain soal Bahaya Pemberian MPASI Dini (& Menundanya) di Notes & Timeline Photos saya salah satunya :

https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/bahaya-pemberian-mpasi-makanan-pendamping-asipasi-dini-menundanya-lewat-dari-6-b/10203307416352044

Jadi.. masih galau kalau bayi sehat, cukup bulan, tumbang/pertumbuhan perkembangan baik disuruh2 MPASI usia 4 bulan?

Happy Breastfeeding  Salam #ASI
Keep Praying .. #PrayForGaza #PrayForSyria #PrayForRohingya & all other places in this world where Moslems fight for their rights
 — with Lusiana Atmoko and 5 others at Sydney.
Photo: Sejak 2001 hingga Sekarang, Rekomendasi Pemberian #ASI eksklusif 6 bulan / waktu mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI) saat bayi berusia 6 bulan / 180 hari = Belum BERUBAH

Sebelumnya saya mengucapkan Mohon maaf lahir batin, terutama bila ada kata2 / tulisan saya yang kurang berkenan. Terimakasih atas ucapan yang dikirimkan via Inbox dll, maaf bila tidak dibalas satu persatu. Taqabbal Allahu minna wa minkum.

Dalam sebulan terakhir ini saya membaca & ditanya beberapa Ibu menyusui yang menyatakan kebingungannya karena tenaga kesehatan yang menangani bayi-bayi mereka baik itu dokter anak maupun bidan menyarankan pemberian MPASI sejak usia 4 bulan, dan kata-nya rekomendasi IDAI sudah berubah (saya tidak ada niat untuk mendiskreditkan para tenaga kesehatan). Kemudian ada yang minta saya sumber2 asli yang menyatakan rekomendasi MPASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan. 

Baiklah , silahkan simak kutipan2 ini, semua sumber kecuali dari web IDAI tidak saya terjemahkan bahasa Inggrisnya karena saya post benar2 original filenya. Gak complaint ya.. pakai fasilitas google translate aja kalau tidak bisa bahasa Inggris.

1. Rekomendasi WHO (World Health Organization)
 
Duration of Exclusive Breastfeeding & Age of Introduction of Complementary Foods

A. Guideline: Practice exclusive breastfeeding from birth to 6 months of age, and introduce complementary foods at 6 months of age (180 days) while continuing to breastfeed.

B. Scientific rationale: 

In May, 2001 the 54th World Health Assembly urged Member States to
promote exclusive breastfeeding for six months as a global public health recommendation (World Health Assembly, 2001). This recommendation followed a report by a WHO Expert Consultation on the Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding (WHO, 2001), which considered the results of a systematic review of the evidence (Kramer and Kakuma, 2002) and concluded that exclusive breastfeeding for six months confers several benefits on the infant and the
mother. Chief among these is the protective effect against infant gastrointestinal infections, which is observed not only in developing country settings but also in industrialized countries (Kramer et al., 2001).

Sumber : Guiding Principles For Complementary Feeding of The Breastfed Child - WHO 2010

2. Rekomendasi UNICEF (United Nations of Children's Fund)

Breast milk provides all the food and water that your baby needs during the first 6 months.

• Do not give anything else, not even water, during your baby’s first 6 months.
• Even during very hot weather, breast milk will satisfy your baby’s thirst.
• Giving your baby anything else will cause him/her to suckle less and will reduce the amount of
breast milk that you produce.
• Water, other liquids and foods can make the baby sick.

Sumber : Key Message Booklet UNICEF September 2012

3. Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics)

How long should I breastfeed my baby?

The AAP recommends that babies be exclusively breastfed for about the first 6 months of life. This means your baby needs no additional foods (except Vitamin D) or fluids unless medically indicated. Babies should continue to breastfeed for a year and for as long as is mutually desired by the mother and baby. Breastfeeding should be supported by your physician for as long as it is the right choice for you and your baby.

4. Rekomendasi Australian Government National Health & Medical Research Council

In Australia, it is recommended that infants be exclusively breastfed until 
around 6 months of age when solid foods are introduced. It is further 
recommended that breastfeeding be continued until 12 months of age 
and beyond, for as long as the mother and child desire. 

5. Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA  

REKOMENDASI No.: 002/Rek/PP IDAI/XI/2010

tentang Air Susu Ibu dan Menyusui

ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain, baik berupa air putih, jus, ataupun susu selain ASI. Pemberian vitamin, mineral, dan obat-obatan diperbolehkan selama pemberian ASI eksklusif

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama cukup untuk mencapai tumbuh kembang optimal.

Bonus :

6. Infant and young child feeding Model Chapter for textbooks for medical students and allied health professionals - WHO

Recommended infant and young child feeding practices WHO and UNICEF’s global recommendations for optimal infant feeding as set out in the Global Strategy
are:

Exclusive breastfeeding for 6 months (180 days)

Silahkan baca tulisan2 saya yang lain soal Bahaya Pemberian MPASI Dini (& Menundanya) di Notes & Timeline Photos saya salah satunya  :

https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/bahaya-pemberian-mpasi-makanan-pendamping-asipasi-dini-menundanya-lewat-dari-6-b/10203307416352044

Jadi.. masih galau kalau bayi sehat, cukup bulan, tumbang/pertumbuhan perkembangan baik disuruh2 MPASI usia 4 bulan?

Happy Breastfeeding :) Salam #ASI
Keep Praying .. #PrayForGaza #PrayForSyria #PrayForRohingya & all other places in this world where Moslems fight for their rights
source : https://www.facebook.com/fbmonika?fref=ts , timeline mbak Fatimah Berliana Monika Purba di fb, semoga menjadi amal baik yg manfaatnya tak berkesudahan.
Continue Reading...

Saturday, 3 May 2014

Memberikan Pendidikan Seks (Sex Education) pada anak2

0 comments

Memberikan Pendidikan Seks (Sex Education) pada anak2

Salah satu tugas berat orang tua dalam mendidik anak2nya adalah memberikan pendidikan seks pada anak2. Secara turun temurun terutama daerah "Timur" membicarakan Seks adalah hal yang tabu. Bahkan saya sendiri belajar dan tau soal menstruasi lewat teman2 saya dan ketika mendapat menstruasi pertama tidak bilang ke Ibu saya.

Padahal besar sekali resikonya jika anak2 mencari2 sendiri pengetahuan soal seks yang bisa terjebak pada bahaya di kemudian hari seperti pornografi. Duh penting banget orang tua bisa jadi kamus hidup bagi anak2nya ya, dan juga bisa jadi teman berbagi anak kita, jadi kitalah yang dicari duluan akan berbagai masalah & pertanyaan , bukan teman2nya.

Untuk saya dan keluarga kecil kami, menyampaikan pendidikan seks merupakan paket gabungan dari pelajaran Biology, Kesehatan , Science dan terutama Agama (Islam). Secara berkala saya memberikan pendidikan seks ini kepada 2 anak laki2 saya yang saat ini berusia 7 dan 5 tahun. Salah satu alat bantu yang sudah saya siapkan jauh2 hari adalah buku ini (asli bukan niat jualan/promosi). Buku ini simple tapi cukup lengkap, ada anatomi tubuh laki2 dan perempuan dalam bentuk gambar, organ2 tubuh manusia termasuk organ reproduksi.

Pendidikan seks ini disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak kedua saya , penekanan saya pada anatomi tubuh, perbedaan laki2 dan perempuan. Pentingnya menjaga & menutup aurat, keep your body to yourself = tidak boleh orang lain memegang tubuh kita tanpa ijin (ajarkan anak konsep kepemilikan dan meminta ijin), kecuali saat diperiksa dokter, perawat, Ayah-Bunda, don't talk to strangers, don't accept pemberian makanan-minuman/apapun dari strangers kalau terpaksa menerima , segera berikan ke Bunda / Ayah dan beberapa pesan2 lainnya.

Dalam hal mengajarkan anatomi tubuh, ajarkan sesuai nama/istilah medisnya, penis ya penis, vagina ya vagina, bukan istilah2 aneh dalam bahasa daerah/bahasa Indonesia. Juga diiklankan bahwa kata2 tersebut bukan kata2 untuk diucapkan ke orang2/teman2.

Untuk anak pertama yang usianya 7 tahun materinya lebih berat. Malam ini saya baru menyelesaikan mengajar dan berdiskusi panjang lebar soal pubertas dan sistem reproduksi. Seru dong ya menjelaskan soal sperma, mimpi basah, bagaimana bisa ada bayi, dll. Di kelas Sciencenya, anak saya sudah belajar dan berexplorasi dengan menanam tanaman sejak dari seed/benih. Nah ini analogi yang saya pakai untuk menjelaskan konsep reproduksi sejak pembuahan hingga keluarnya bayi.

Anak pertama saya kritis dan sangat detil bertanyanya seperti bentuk sperma seperti apa, bagaimana membedakan mimpi basah yang mengeluarkan sperma dengan ngompol yang mengeluarkan air seni/pipis, kan sama2 basah. Buanyak banget pertanyaan seru, sampai lupa saya . Nah tentu saja muatan pelajaran agamanya lebih banyak seperti konsep baligh dalam Islam, apa kewajiban2 setelah baligh, aturan2 dalam Islam , sedikit mengenai dosa zina, dll.

Sebenarnya masih banyak yang bisa di share, tapi untuk malam ini segini dulu.
Insya Alloh semua ikhtiar kita mengantarkan anak2 kita menjadi pribadi dewasa, mandiri dan tentu saja soleh / solehah dimudahkan Allah subhanahuwa Ta'ala. Aamiin

*diambil dari tulisan saudari Fatimah Berliana Monika Purba, pegiat kesehatan bayi dan anak
Continue Reading...

Monday, 20 January 2014

Nama nama bayi islami beserta aslinya berawalan dengan huruf N

0 comments

 
nama nama bayi islami berawalan dengan huruf N

Nama nama bayi islami beserta aslinya berawalan dengan huruf N

Berikut ini adalah nama nama bayi islami yang diawali dengan huruf N

. Nama Artinya
01. Nashir Penolong
02. Nashiruddin Penolong Agama
03. Nashrullah Kemenangan dari Allah
04. Nail Yang suka memberi
05. Nu'man Kenikmatan
06. Nuruddin Cahaya Agama
07. Nadhir Indah - elok
08. Naufal Dermawan
09. Nadi Tempat pertemuan
10. Naji (1) Selamat (2) Onta yang lari cepat
11. Naif (1) Berkedudukan (2)Menonjol
12. Nashif (1) Adil (2)Insaf (3) Pelayan
13. Nizar (1) Sedikit berbicara (2) Sedikit memberi
14. Na'im Kenikmatan
15. Nuri Bercahaya
16. Nabih Cerdik - Mulia
17. Nabil Cerdik - Mahir
18. Najmi Bintang
 19. Nadhmi Teratur (disiplin)
 20. Nasih Setia - Loyal - Ikhlas
 21. Nadir Jarang
22. Nawwaf Yang menonjolkan
 23. Nadim Teman minum
24. Nashir Pembela
 25. Nafil Tambahan
26. Nazih Bersih dari noda cacat
 27. Nidham Peraturan
28. Najib Mulia - Utama -bernilai
29. Nadhim Pengatur
 30. Nasim Angin Sepai - sepoi
 31. Nawwar Pemberi cahaya
 32. Nafis Berharga
33. Nabhan Mulia - terkenal
 34. Najmuddin Bintang agama
35. Nadhif Bersih
36. Nahid Anak dalam masa puber
Continue Reading...

Mengatasi Demam pada anak, Mitos dan Fakta!

0 comments

 
mengatasi demam pada anak

PENTING!! Seputar DEMAM , Obat Demam , Mitos & Fakta

Seputar DEMAM , Obat Demam , Mitos & Fakta   by F.B.Monika
Topik demam selalu ramai didiskusikan. Mulai dari kepanikan orang tua saat anaknya demam, takut akan efek samping demam dan obat demam, beberapa mitos yang umum beredar seputar demam , dll dll.
Sadarkah yang utama perlu dipersiapkan adalah : ILMU. Carilah informasi dari sumber-sumber yang terpercaya, itu yang utama. Jangan hanya bermodal “katanya” walaupun “nya” itu dokter/tenaga kesehatan. Maaf bukan saya hendak men diskreditkan dokter/tenaga kesehatan yang menyampaikan informasi seputar kesehatan, tapi hanya bermodal katanya saja tidaklah cukup. Cari lagi lebih lanjut referensi2 yang bisa dipegang.
Dalam hal ini bila sepakat kita mengacu pada RUM (Rational Use of Medicine) / Pengobatan yang Rasional berbasis EBM (Evidence Based Medicine) yang sudah melalui berbagai tahapan sehingga suatu terapi (medis) jelas terukur risk benefitnya. Pasien (saya lebih suka menyebut sebagai konsumen kesehatan yang cerdas), yang selalu update ilmu kesehatan, bisa menjadi mitra sejajar dokter/tenaga kesehatan.
Sekedar mengulang, apa sih RUM / Pengobatan yang rasional itu?
Definisi RUM (Rational Use of Medicine) / pengobatan yang rasional menurut WHO (yang dicanangkan di Nairobi tahun 1985) adalah :“Patients receive medication appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for an adequate period of time, and at the lowest cost to them and their community”.
Jadi, pola pemakaian obat yang rasional adalah pemakaian obat yang aman dan efektif atau mudahnya dijabarkan dalam bentuk kosep 5 T : TEPAT sesuai klinis (diagnosis), TEPAT dosis (individual) , TEPAT jangka waktu , TEPAT informasi (obyektif) , dan TEPAT harga.
Sementara EBM (Evidence Based Medicine) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam prakteknya, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan testimoni beberapa orang saja.
Jadi salah besar kalau RUM itu artinya Anti Obat dan Anti Dokter. Maaf banget, buanyak sekali orang yang kebablasan, mengaku2 ber’aliran’ RUM tapi ternyata sangat anti obat dan anti dokter. Bahkan sering terjadi ada yang keukeuh HT alias Home Treatment padahal anaknya sudah mengalami tanda-tanda gawat darurat.
Kembali lagi ke topik demam, berikut ini pertanyaan dan pernyataan yang umum timbul :
1. Demam perlu segera diturunkan.
2. Demam tinggi akan merusak otak.
3. Demam bila dibiarkan akan menyebabkan kejang.
4. Obat demam menyebabkan kerusakan hati & ginjal.
5. Obat penurun panas yang dimasukkan melalui anus lebih ampuh daripada obat minum.
6. Berikan Antibiotik (AB) saat anak demam.
Dalam tulisan saya kali ini saya akan coba memaparkan dengan singkat mengenai demam yang saya olah dari berbagai referensi (referensi2 yang saya pakai ada di akhir tulisan ini).
Tubuh manusia memiliki hipotalamus di otak yang berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh / body’s thermostat. Suhu normal tubuh manusia berkisar 37 +/-1 derajat Celcius. Hipotalamus bertugas mengatur suhu tubuh sesuai kebutuhan tubuh saat tersebut.
Penyebab demam secara umum dibagi 2 yaitu :
  1. Infeksi (virus, bakteri, parasit)
  2. Non Infeksi, seperti peradangan/inflamasi, sedang teething/tumbuh gigi, autoimun (adanya kesalahan "program" di dalam tubuh dimana organ tubuh kita disangka sebagai "musuh" dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh kita) dan lain2.
Selama demam, hipotalamus secara cermat mengendalikan kenaikan suhu tubuh sehingga jarang sekali demam melebihi 41 derajat Celcius. Kerusakan otak yang dikhawatirkan terjadi bila demam tinggi mencapai suhu >42 derajat Celcius (melebihi 41 derajat Celcius saja sangat jarang terjadi). 
Diantara kedua penyebab diatas (Infeksi dan Non Infeksi, demam lebih sering disebabkan karena infeksi dan umumnya pada bayi dan anak, demam terjadi karena infeksi virus (penyakit langganan anak2 alias common problem meliputi common cold/selesma /batuk pilek, infeksi telinga, gastroenteritis, dll) .
Jadi.. demam itu sendiri bukanlah suatu penyakit  tapi suatu gejala. Gejala tidak bisa hilang bila penyebabnya tidak diketahui dan ditangani. Analoginya, bila alarm kebakaran bunyi, yang utama bukan matikan alarmnya tapi cari apa penyebab alarmnya bunyi dan atasi sesuai kondisinya (kebetulan di apartment saya alarm dalam rumah sangat sensitif dan bunyinya sangat keras, bagus sih jadi ada asap sedikit langsung cari karena apa, biasanya pas saya masak meluap atau ada bahan makanan yang terbakar).
Dalam kasus demam yang disebabkan karena infeksi , demam memiliki manfaat bagi tubuh untuk melawan infeksi. Harap diingat juga, tingginya suhu saat demam tidak berkorelasi/tidak berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Demam dapat menghambat perkembangan dan reproduksi bakteri / virus yang sedang menyerang tubuh .
Nah, kalau begitu apa gunanya minum obat penurun panas / demam? Di dalam panduan yang dikeluarkan AAP (American Academy of Pediatrics) mengenai Demam & Penggunaan Antipiretik (penurun demam) untuk anak2 , para dokter perlu memberikan penekanan pada orang tua pasien bahwa menangani demam pada anak (misal dengan memberikan obat penurun demam) tujuannya adalah meningkatkan kenyamanan anak. Jadi penekanannya bukan pada segera menormalkan suhu tubuh anak. 
Tentu saja “ambang batas rasa sakit” tiap anak berbeda-beda. Orang tua perlu cermat menilai dan mengupayakan terapi suportif dalam menyamankan anak saat demam. Pilihan seperti kompres hangat, berendam hangat, skin to skin contact, makan minum yang anak sukai (jaga asupan cairan sangat penting supaya tidak dehidrasi) , aktivitas ringan yang disukai anak dapat dicoba. Bila anak sangat tidak nyaman, terus menerus rewel walau terapi suportif sudah diupayakan maka pemberian obat penurun demam bukan tindakan yang salah.
Terutama pada beberapa penyakit yang memang terasa amat sakit seperti DD (demam dengue) / DBD / Cikungunya. Saya pernah mengalaminya, SubhanAllah rasa sakitnya sampai disebut breakbone fever, karena tulang-sendi seperti patah, nyeri kepala luar biasa, selain mual & keluhan2 lainnya.
2 jenis obat penurun demam yang umum diberikan pada anak-anak adalah Paracetamol dan Ibuprofen. Aspirin tidak boleh diberikan pada anak-anak karena efek sampingnya yang berat termasuk meningkatkan resiko Sindroma Reye.
Ibuprofen tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.
Baik Ibuprofen maupun Paracetamol sama2 efektif dalam menurunkan demam, walau dalam studi yang pernah dilakukan Ibuprofen lebih efektif untuk anak2 yang berusia > 5 tahun.
Yang akan saya bahas lebih lanjut adalah Paracetamol.
Dosis Paracetamol adalah 10-15 mg/kg per dosis diberikan setiap 4-6 jam (oral) adalah dosis yang aman dan efektif. Sangat dianjurkan memberikan takaran sesuai BB/berat badan anak, bukan sekedar mengikuti anjuran pakai berdasarkan usia yang biasanya tertera di kemasan. Juga perhatikan kandungan tiap produk, karena untuk merk yang sama, varian yang berbeda kandungan per ml nya berbeda. Misal, saya ambil merk, ada Panadol untuk anak biasa, ada yang forte. Contoh lain, ada Sanmol drop, ada Sanmol syrup. Hal penting juga, gunakan ukuran yang tepat, misal disebut per 5 ml ya gunakan sendok takar/pipet untuk bayi , jangan gunakan sendok makan/sendok teh yang biasa dipakai di rumah. Hal penting lainnya, letakkan obat-obatan di tempat yang tidak mudah dijangkau anak-anak.
Paracetamol dapat berbahaya , menyebabkan hepatotoxicity karena overdosis. Ya secara umum sih obat-obatan apapun bila dikonsumsi overdosis akan berbahaya , tidak hanya paracetamol.
Berdasarkan Jurnal : Paracetamol poisoning in children and hepatotoxicity
By A. PENNA & N. BUCHANAN
Paediatric Pharmacology Unit, Westmead Hospital and the University of Sydney, Sydney, Australia: Chronic poisoning ketika dosis mencapai 130 mg/kg per hari.
Berikut ini adalah beberapa tanda Overdosis Paracetamol : Hilang nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, berkeringat, lemas, warna urin lebih gelap, kulit dan bagian putih mata menjadi menguning (Jaundice).
Orang tua tidak direkomendasikan memberikan obat batuk pilek (OTC/Over The Counter Products alias Obat batuk pilek yang dijual bebas tanpa resep) yang mengandung Paracetamol & Ibuprofen karena berpotensi pada saat bersamaan orang tua memberikan juga obat penurun demam.
Saat anak demam tinggi, ada orang tua yang buru-buru pergi ke UGD/ke dokter dan meminta dokter memberikan obat penurun demam via anus  karena dianggap lebih ampuh dan cepat menurunkan demam. Benarkah demikian? Di salah satu RCT (Randomized Controlled Trial) yang membandingkan keefektifan paracetamol via oral vs via rectal ternyata hasilnya oral vs rectal paracetamol sama keefektifannya. Tidak ada bukti yang mendukung bahwa rectal suppositories baik itu menggunakan dosis standar 15 mg/kg maupun dosis tinggi 30-40 mg/kg lebih superior alias ampuh dibandingkan paracetamol  (acetaminophen) oral dalam hal penurunan suhu.
Pemberian obat ini via oral lebih disukai karena penyerapan yang lebih cepat sementara pemberian via rectal dapat dipertimbangkan pada kondisi khusus misalnya anak muntah2 atau dalam kondisi tidak boleh menerima asupan via oral.
Bila demam berlangsung berhari-hari (lebih dari 3 hari) tanpa diketahui sumber penyebabnya (misal tidak keluar batuk pilek, muntah, diare atau hal lain) maka periksakanlah ke dokter. Khusus pada bayi kecil, makin muda usianya orangtua perlu waspada. Bila bayi berusia kurang dari 3 bulan dan demam lebih dari 38 derajat Celcius segera periksakan ke dokter.
Perlunya Antibiotik atau tidak tergantung diagnosis yang diberikan oleh dokter. AB / Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi karena bakteri, sementara infeksi virus yang merupakan penyebab penyakit langganan anak-anak tidak dapat diobati dengan Antibiotik. Silahkan baca Notes saya mengenai RUM-Breaking The Antibiotic Habit.
Terdapat kekhawatiran demam yang tidak segera diturunkan dapat menyebabkan Kejang Demam/KD (Febrile Seizure/Convulsion). Padahal tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam. Yang penting orangtua lakukan adalah menangani kejang demam dengan tepat dan mencari sumber/penyebab demam. Tidak ada bukti bahwa pemberian Antipiretik / obat penurun demam dapat mencegah terjadinya Kejang demam. Bahkan walau obat penurun demam diberikan setiap 4 jam hasilnya pun akan sama.
Kebanyakan kejang demam terjadi di 24 jam pertama perjalanan penyakit dan belum tentu terjadi saat suhu demam yang tertinggi. Infeksi telinga, common cold atau infeksi virus lainnya dapat memicu kejang demam, juga apakah ada riwayat di anggota keluarga yang juga pernah mengalami kejang demam saat masa kecilnya.
Anak pertama saya pernah mengalami Kejang Demam Sederhana dan Kejang Demam Kompleks. Kejadian yang pertama kali saat usia 2 tahun. Yang utama jangan panik walau hati remuk redam rasanya pas menjaga anak yang sedang kejang tersebut.
Hal yang terakhir, kenalilah tanda-tanga gawat darurat ini, segera hubungi dokter pada beberapa kondisi berikut ini:
- Apabila kondisi anak memburuk
- Demam sudah berlangsung 72 jam (tanpa penyebab yang jelas)
- Susah minum atau tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi
- Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (letargi)
- Kejang atau kaku kuduk leher
- Sakit kepala hebat yang menetap
- Sesak napas
- Muntah menyemprot, diare terus-menerus
style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'Helvetica Neue', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;">
Sumber :
1. Fever and Antipyretic Use in Children
2. Notes FB saya : RUM (Pengobatan yg Rasional) : Breaking The Antibiotic Habit . Bagian 2 adalah topik demam :
3. Demam dari web Milis Sehat :
4. Kejang Demam dari web Milis Sehat :
5. [Antipyretic effectiveness of ibuprofen and paracetamol].
6. Fever
7. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures
8. Paracetamol/Acetaminophen dari website www.drugs.com
9. Fever in children-Fact sheet
10. Febrile Convulsions
11. Febrile seizures
12. Paracetamol poisoning in children and hepatotoxicity
13. Antipyretic therapy. Comparison of rectal and oral paracetamol.
14. This study is designed to compare the antipyretic effectiveness of two rectal acetaminophen doses (15 mg/kg) and (35 mg/kg), to the standard oral dose of 15 mg/kg.
15. A Kids’s Guide to Fever
16. Notes saya 
Jadilah Konsumen Kesehatan Yang Cerdas untuk Investasi Keluarga Jangka Panjang :
Silahkan teman2 kalau ada tulisan saya yang salah / saya salah interprestasi dalam sumber2 yang saya ambil tolong infokan beserta sumber/referensinya tentunya :).
Untuk gambar-gambar saya pajang pakai merk (asli ga ada niat jualan) , supaya pada ngeh saat ke Apotek / ke toko yang menjual Obat OTC ini (selain itu ada juga kok Generiknya, jelas harganya lebih murah :) ).
Semoga bermanfaat ya.
Menambahkan sedikit info bahwa pemberian Antipiretik atau Obat penurun demam sebelum Vaksinasi dengan tujuan mencegah demam dan atau Kejang demam , dapat menurunkan respon tubuh akan vaksin yang diberikan.
"Prophylactic Acetaminophen Before Vaccination in Infants Reduces Vaccine Response :
Prophylactic administration of acetaminophen (paracetamol) to reduce fever or febrile convulsions after vaccination in infants actually results in reduced immunogenicity and should not be routinely recommended, according to a new study published in the October 17 issue of The Lancet.
Contoh Sanmol - Paracetamol drop untuk bayi
Contoh Sanmol - Paracetamol drop untuk bayi
Contoh Sanmol - Paracetamol syrup untuk anak
Contoh Sanmol - Paracetamol syrup untuk anak
Contoh Panadol - Paracetamol berbagai bentuk syrup hingga tablet untuk anak yang lebih besar
Contoh Panadol - Paracetamol berbagai bentuk syrup hingga tablet untuk anak yang lebih besar
Contoh Proris - Ibuprofen syrup
Contoh Proris - Ibuprofen syrup
Continue Reading...

Sunday, 12 January 2014

PENTING!! Seputar DEMAM , Obat Demam , Mitos & Fakta

0 comments
Seputar DEMAM , Obat Demam , Mitos & Fakta   by F.B.Monika

Topik demam selalu ramai didiskusikan. Mulai dari kepanikan orang tua saat anaknya demam, takut akan efek samping demam dan obat demam, beberapa mitos yang umum beredar seputar demam , dll dll.

Sadarkah yang utama perlu dipersiapkan adalah : ILMU. Carilah informasi dari sumber-sumber yang terpercaya, itu yang utama. Jangan hanya bermodal “katanya” walaupun “nya” itu dokter/tenaga kesehatan. Maaf bukan saya hendak men diskreditkan dokter/tenaga kesehatan yang menyampaikan informasi seputar kesehatan, tapi hanya bermodal katanya saja tidaklah cukup. Cari lagi lebih lanjut referensi2 yang bisa dipegang.

Dalam hal ini bila sepakat kita mengacu pada RUM (Rational Use of Medicine) / Pengobatan yang Rasional berbasis EBM (Evidence Based Medicine) yang sudah melalui berbagai tahapan sehingga suatu terapi (medis) jelas terukur risk benefitnya. Pasien (saya lebih suka menyebut sebagai konsumen kesehatan yang cerdas), yang selalu update ilmu kesehatan, bisa menjadi mitra sejajar dokter/tenaga kesehatan.

Sekedar mengulang, apa sih RUM / Pengobatan yang rasional itu?
Definisi RUM (Rational Use of Medicine) / pengobatan yang rasional menurut WHO (yang dicanangkan di Nairobi tahun 1985) adalah :“Patients receive medication appropriate to their clinical needs, in doses that meet their own individual requirements, for an adequate period of time, and at the lowest cost to them and their community”.

Jadi, pola pemakaian obat yang rasional adalah pemakaian obat yang aman dan efektif atau mudahnya dijabarkan dalam bentuk kosep 5 T : TEPAT sesuai klinis (diagnosis), TEPAT dosis (individual) , TEPAT jangka waktu , TEPAT informasi (obyektif) , dan TEPAT harga.

Sementara EBM (Evidence Based Medicine) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam prakteknya, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya, bukan hanya berdasarkan testimoni beberapa orang saja.

Jadi salah besar kalau RUM itu artinya Anti Obat dan Anti Dokter. Maaf banget, buanyak sekali orang yang kebablasan, mengaku2 ber’aliran’ RUM tapi ternyata sangat anti obat dan anti dokter. Bahkan sering terjadi ada yang keukeuh HT alias Home Treatment padahal anaknya sudah mengalami tanda-tanda gawat darurat.

Kembali lagi ke topik demam, berikut ini pertanyaan dan pernyataan yang umum timbul :

1. Demam perlu segera diturunkan.
2. Demam tinggi akan merusak otak.
3. Demam bila dibiarkan akan menyebabkan kejang.
4. Obat demam menyebabkan kerusakan hati & ginjal.
5. Obat penurun panas yang dimasukkan melalui anus lebih ampuh daripada obat minum.
6. Berikan Antibiotik (AB) saat anak demam.

Dalam tulisan saya kali ini saya akan coba memaparkan dengan singkat mengenai demam yang saya olah dari berbagai referensi (referensi2 yang saya pakai ada di akhir tulisan ini).

Tubuh manusia memiliki hipotalamus di otak yang berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh / body’s thermostat. Suhu normal tubuh manusia berkisar 37 +/-1 derajat Celcius. Hipotalamus bertugas mengatur suhu tubuh sesuai kebutuhan tubuh saat tersebut.

Penyebab demam secara umum dibagi 2 yaitu :

  1. Infeksi (virus, bakteri, parasit)
  2. Non Infeksi, seperti peradangan/inflamasi, sedang teething/tumbuh gigi, autoimun (adanya kesalahan "program" di dalam tubuh dimana organ tubuh kita disangka sebagai "musuh" dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh kita) dan lain2.
Selama demam, hipotalamus secara cermat mengendalikan kenaikan suhu tubuh sehingga jarang sekali demam melebihi 41 derajat Celcius. Kerusakan otak yang dikhawatirkan terjadi bila demam tinggi mencapai suhu >42 derajat Celcius (melebihi 41 derajat Celcius saja sangat jarang terjadi). 

Diantara kedua penyebab diatas (Infeksi dan Non Infeksi, demam lebih sering disebabkan karena infeksi dan umumnya pada bayi dan anak, demam terjadi karena infeksi virus (penyakit langganan anak2 alias common problem meliputi common cold/selesma /batuk pilek, infeksi telinga, gastroenteritis, dll) .

Jadi.. demam itu sendiri bukanlah suatu penyakit  tapi suatu gejala. Gejala tidak bisa hilang bila penyebabnya tidak diketahui dan ditangani. Analoginya, bila alarm kebakaran bunyi, yang utama bukan matikan alarmnya tapi cari apa penyebab alarmnya bunyi dan atasi sesuai kondisinya (kebetulan di apartment saya alarm dalam rumah sangat sensitif dan bunyinya sangat keras, bagus sih jadi ada asap sedikit langsung cari karena apa, biasanya pas saya masak meluap atau ada bahan makanan yang terbakar).

Dalam kasus demam yang disebabkan karena infeksi , demam memiliki manfaat bagi tubuh untuk melawan infeksi. Harap diingat juga, tingginya suhu saat demam tidak berkorelasi/tidak berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Demam dapat menghambat perkembangan dan reproduksi bakteri / virus yang sedang menyerang tubuh .

Nah, kalau begitu apa gunanya minum obat penurun panas / demam? Di dalam panduan yang dikeluarkan AAP (American Academy of Pediatrics) mengenai Demam & Penggunaan Antipiretik (penurun demam) untuk anak2 , para dokter perlu memberikan penekanan pada orang tua pasien bahwa menangani demam pada anak (misal dengan memberikan obat penurun demam) tujuannya adalah meningkatkan kenyamanan anak. Jadi penekanannya bukan pada segera menormalkan suhu tubuh anak. 

Tentu saja “ambang batas rasa sakit” tiap anak berbeda-beda. Orang tua perlu cermat menilai dan mengupayakan terapi suportif dalam menyamankan anak saat demam. Pilihan seperti kompres hangat, berendam hangat, skin to skin contact, makan minum yang anak sukai (jaga asupan cairan sangat penting supaya tidak dehidrasi) , aktivitas ringan yang disukai anak dapat dicoba. Bila anak sangat tidak nyaman, terus menerus rewel walau terapi suportif sudah diupayakan maka pemberian obat penurun demam bukan tindakan yang salah.

Terutama pada beberapa penyakit yang memang terasa amat sakit seperti DD (demam dengue) / DBD / Cikungunya. Saya pernah mengalaminya, SubhanAllah rasa sakitnya sampai disebut breakbone fever, karena tulang-sendi seperti patah, nyeri kepala luar biasa, selain mual & keluhan2 lainnya.

2 jenis obat penurun demam yang umum diberikan pada anak-anak adalah Paracetamol dan Ibuprofen. Aspirin tidak boleh diberikan pada anak-anak karena efek sampingnya yang berat termasuk meningkatkan resiko Sindroma Reye.
Ibuprofen tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.
Baik Ibuprofen maupun Paracetamol sama2 efektif dalam menurunkan demam, walau dalam studi yang pernah dilakukan Ibuprofen lebih efektif untuk anak2 yang berusia > 5 tahun.

Yang akan saya bahas lebih lanjut adalah Paracetamol.

Dosis Paracetamol adalah 10-15 mg/kg per dosis diberikan setiap 4-6 jam (oral) adalah dosis yang aman dan efektif. Sangat dianjurkan memberikan takaran sesuai BB/berat badan anak, bukan sekedar mengikuti anjuran pakai berdasarkan usia yang biasanya tertera di kemasan. Juga perhatikan kandungan tiap produk, karena untuk merk yang sama, varian yang berbeda kandungan per ml nya berbeda. Misal, saya ambil merk, ada Panadol untuk anak biasa, ada yang forte. Contoh lain, ada Sanmol drop, ada Sanmol syrup. Hal penting juga, gunakan ukuran yang tepat, misal disebut per 5 ml ya gunakan sendok takar/pipet untuk bayi , jangan gunakan sendok makan/sendok teh yang biasa dipakai di rumah. Hal penting lainnya, letakkan obat-obatan di tempat yang tidak mudah dijangkau anak-anak.

Paracetamol dapat berbahaya , menyebabkan hepatotoxicity karena overdosis. Ya secara umum sih obat-obatan apapun bila dikonsumsi overdosis akan berbahaya , tidak hanya paracetamol.

Berdasarkan Jurnal : Paracetamol poisoning in children and hepatotoxicity
By A. PENNA & N. BUCHANAN
Paediatric Pharmacology Unit, Westmead Hospital and the University of Sydney, Sydney, Australia: Chronic poisoning ketika dosis mencapai 130 mg/kg per hari.

Berikut ini adalah beberapa tanda Overdosis Paracetamol : Hilang nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, berkeringat, lemas, warna urin lebih gelap, kulit dan bagian putih mata menjadi menguning (Jaundice).

Orang tua tidak direkomendasikan memberikan obat batuk pilek (OTC/Over The Counter Products alias Obat batuk pilek yang dijual bebas tanpa resep) yang mengandung Paracetamol & Ibuprofen karena berpotensi pada saat bersamaan orang tua memberikan juga obat penurun demam.

Saat anak demam tinggi, ada orang tua yang buru-buru pergi ke UGD/ke dokter dan meminta dokter memberikan obat penurun demam via anus  karena dianggap lebih ampuh dan cepat menurunkan demam. Benarkah demikian? Di salah satu RCT (Randomized Controlled Trial) yang membandingkan keefektifan paracetamol via oral vs via rectal ternyata hasilnya oral vs rectal paracetamol sama keefektifannya. Tidak ada bukti yang mendukung bahwa rectal suppositories baik itu menggunakan dosis standar 15 mg/kg maupun dosis tinggi 30-40 mg/kg lebih superior alias ampuh dibandingkan paracetamol  (acetaminophen) oral dalam hal penurunan suhu.

Pemberian obat ini via oral lebih disukai karena penyerapan yang lebih cepat sementara pemberian via rectal dapat dipertimbangkan pada kondisi khusus misalnya anak muntah2 atau dalam kondisi tidak boleh menerima asupan via oral.

Bila demam berlangsung berhari-hari (lebih dari 3 hari) tanpa diketahui sumber penyebabnya (misal tidak keluar batuk pilek, muntah, diare atau hal lain) maka periksakanlah ke dokter. Khusus pada bayi kecil, makin muda usianya orangtua perlu waspada. Bila bayi berusia kurang dari 3 bulan dan demam lebih dari 38 derajat Celcius segera periksakan ke dokter.

Perlunya Antibiotik atau tidak tergantung diagnosis yang diberikan oleh dokter. AB / Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi karena bakteri, sementara infeksi virus yang merupakan penyebab penyakit langganan anak-anak tidak dapat diobati dengan Antibiotik. Silahkan baca Notes saya mengenai RUM-Breaking The Antibiotic Habit.

Terdapat kekhawatiran demam yang tidak segera diturunkan dapat menyebabkan Kejang Demam/KD (Febrile Seizure/Convulsion). Padahal tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam. Yang penting orangtua lakukan adalah menangani kejang demam dengan tepat dan mencari sumber/penyebab demam. Tidak ada bukti bahwa pemberian Antipiretik / obat penurun demam dapat mencegah terjadinya Kejang demam. Bahkan walau obat penurun demam diberikan setiap 4 jam hasilnya pun akan sama.

Kebanyakan kejang demam terjadi di 24 jam pertama perjalanan penyakit dan belum tentu terjadi saat suhu demam yang tertinggi. Infeksi telinga, common cold atau infeksi virus lainnya dapat memicu kejang demam, juga apakah ada riwayat di anggota keluarga yang juga pernah mengalami kejang demam saat masa kecilnya.

Anak pertama saya pernah mengalami Kejang Demam Sederhana dan Kejang Demam Kompleks. Kejadian yang pertama kali saat usia 2 tahun. Yang utama jangan panik walau hati remuk redam rasanya pas menjaga anak yang sedang kejang tersebut.

Hal yang terakhir, kenalilah tanda-tanga gawat darurat ini, segera hubungi dokter pada beberapa kondisi berikut ini:

- Apabila kondisi anak memburuk
- Demam sudah berlangsung 72 jam (tanpa penyebab yang jelas)
- Susah minum atau tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi
- Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (letargi)
- Kejang atau kaku kuduk leher
- Sakit kepala hebat yang menetap
- Sesak napas
- Muntah menyemprot, diare terus-menerus

Sumber :

1. Fever and Antipyretic Use in Children


2. Notes FB saya : RUM (Pengobatan yg Rasional) : Breaking The Antibiotic Habit . Bagian 2 adalah topik demam :


3. Demam dari web Milis Sehat :


4. Kejang Demam dari web Milis Sehat :


5. [Antipyretic effectiveness of ibuprofen and paracetamol].

6. Fever

7. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures


8. Paracetamol/Acetaminophen dari website www.drugs.com


9. Fever in children-Fact sheet


10. Febrile Convulsions


11. Febrile seizures



12. Paracetamol poisoning in children and hepatotoxicity



13. Antipyretic therapy. Comparison of rectal and oral paracetamol.


14. This study is designed to compare the antipyretic effectiveness of two rectal acetaminophen doses (15 mg/kg) and (35 mg/kg), to the standard oral dose of 15 mg/kg.


15. A Kids’s Guide to Fever


16. Notes saya 
Jadilah Konsumen Kesehatan Yang Cerdas untuk Investasi Keluarga Jangka Panjang :



Silahkan teman2 kalau ada tulisan saya yang salah / saya salah interprestasi dalam sumber2 yang saya ambil tolong infokan beserta sumber/referensinya tentunya :).

Untuk gambar-gambar saya pajang pakai merk (asli ga ada niat jualan) , supaya pada ngeh saat ke Apotek / ke toko yang menjual Obat OTC ini (selain itu ada juga kok Generiknya, jelas harganya lebih murah :) ).

Semoga bermanfaat ya.

Menambahkan sedikit info bahwa pemberian Antipiretik atau Obat penurun demam sebelum Vaksinasi dengan tujuan mencegah demam dan atau Kejang demam , dapat menurunkan respon tubuh akan vaksin yang diberikan.

"Prophylactic Acetaminophen Before Vaccination in Infants Reduces Vaccine Response :

Prophylactic administration of acetaminophen (paracetamol) to reduce fever or febrile convulsions after vaccination in infants actually results in reduced immunogenicity and should not be routinely recommended, according to a new study published in the October 17 issue of The Lancet.



Contoh Sanmol - Paracetamol drop untuk bayi
Contoh Sanmol - Paracetamol drop untuk bayi
Contoh Sanmol - Paracetamol syrup untuk anak
Contoh Sanmol - Paracetamol syrup untuk anak
Contoh Panadol - Paracetamol berbagai bentuk syrup hingga tablet untuk anak yang lebih besar
Contoh Panadol - Paracetamol berbagai bentuk syrup hingga tablet untuk anak yang lebih besar
Contoh Proris - Ibuprofen syrup
Contoh Proris - Ibuprofen syrup
Continue Reading...

Ikuti Info Bayi dan Ibu hamil via Email anda

 

Copyright © 2012. Nama Nama bayi Islami - All Rights Reserved - Design by BTDesigner - Proudly powered by Blogger